Kemitraan

Wuhan Dikunjungi Kembali

Isu 02, 2019

Wuhan Dikunjungi Kembali

Gautam Bambawale |penulis

Isu 02, 2019


Setahun berlalu sejak Pertemuan tak resmi India-Cina antara PM Narendra Modi dan Presiden Xi Jinping yang berlangsung di Wuhan. Mantan Duta Besar India untuk Cina, Gautam Bambawale berbicara tentang bagaimana hubungan antara kedua negara telah kembali stabil setelah pertemuan puncak tersebut

India dan Cina telah menyumbangkan konsep “pertemuan tak resmi” untuk praktik diplomatis global. Pertemuan Tak Resmi Wuhan yang digelar antara Perdana Menteri Narendra Modi dan Presiden Xi Jinping pada bulan April 2018, merupakan sebuah contoh sempurna dari hal ini. Pertemuan ini menunjukkan bahwa interaksi pemimpin antara kedua negara ini dapat secara penuh dilakukan dalam tingkat tak resmi tanpa mengharuskan lonceng dan peluit yang menjadi permintaan protokol internasional. Pertemuan-pertemuan tak resmi seperti ini telah, dalam beberapa tahun terakhir, menjadi sebuah bagian kecil dari kunjungan resmi yang lebih besar dari seorang pemimpin negara. Bagaimanapun, pertemuan di Wuhan ini, merupakan salah satu pertemuan yang seluruhnya tak resmi dalam pengaturannya, pendekatannya dan pelaksanaanya. Alasan kedua negara sepakat untuk menggelar “Pertemuan Pemimpin Tak Resmi” ini adalah untuk memberikan waktu dan ruang yang cukup bagi para pemimpin untuk berbicara satu sama lain tentang topik-topik yang mereka putuskan bersama. Terdapat beberapa koordinasi pada topik-topik luas yang akan dibahas sebelumnya, tetapi para pemimpin ini bebas untuk memutuskan selama apa akan membahas topik atau pada arahan apa sebuah percakapan tertentu dilakukan. Meskipun hal ini juga dapat berlaku untuk pertemuan yang lebih formal dengan serangkaian agenda yang ditetapkan, hal ini merupakan ciri khas dari pertemuan tak resmi. Karena itu, India dan Cina, yang memberikan dunia Panchsheel atau lima prinsip dalam hidup berdampingan secara damai pada tahun 1950-an, sekali lagi berkontribusi pada praktik diplomatis di abad ke-21.

PM Modi bertemu dengan Presiden Jinping di Musium Provinsi Hubei, Wuhan, Cina

Pertemuan Tak Resmi Wuhan antara Perdana Menteri India dan Presiden Cina juga kuat pada apa yang disebut oleh beberapa pihal sebagai “komunikasi strategis”. Ini merupakan latihan dalam memahami sudut pandang pihak lain, mimpinya, sasaran dan tujuannya, penilaiannya dan strateginya. Dimulai dengan etika, norma dan tradisi peradaban masing-masing yang membentuk kenyataan saat ini, kedua pemimpin ini juga berbicara satu sama lain tentang harapan, ambisi dan keinginan dari rakyat mereka. Hal ini menterjemahkan ke dalam pemahaman bersama tentang kebijakan satu sama lain, baik domestik maupun asing, sifat geo-ekonomi dan geo-politik, bagaimana kedua negara bisa bekerja sama dalam forum-forum multilateral yang lebih besar serta pengakuan di bidang-bidang di mana kedua pihak memiliki perbedaan pendapat dan posisi. Pertukaran pandangan yang jelas, jujur dan langsung seperti ini barangkali tidak akan mungkin dalam pengaturan resmi di mana para pemimpin biasanya berbicara dalam teks yang disiapkan. Pengaturan tak resmi ini lebih dapat diterima untuk mendapatkan pandangan yang jujur dan berbagi kepercayaan. Jadi, presiden Xi dan PM Modi telah menjadi pelopor dalam menetapkan preseden dan norma diplomatik baru. Bahwa Pertemuan Wuhan India-Cina telah berhasil mengembalikan hubungan bilateral menjadi seimbang telah semakin jelas selama setahun terakhir. Di situlah letak kepentingannya dan juga keberhasilannya. Kembalinya hubungan India-Cina ke keseimbangan sebelumnya memang merupakan kontribusi utama Presiden Xi dan PM Modi. Apa hasil dari Pertemuan Tak Resmi Wuhan? Pertama, pertemuan menteri telah dilanjutkan antara kedua negara dengan Kementrian Luar Negeri dan Kementrian Pertahanan India, Sushma Swaraj dan Nirmala Sitharaman, telah mengunjungi Cina dan sebagai balasannya, Menteri Pertahanan Cina, Wei Fenghe, Menteri Keamanan Publik, Zhao Kezhi dan Menteri Luar Negeri, Wang Yi telah mengunjungi India pada tahun 2018. Sementara para menteri kita pergi ke Cina utamanya untuk menghadiri berbagai pertemuan dari Organisasi Korporasi Shanghai (SCO), keduanya memiliki sebuah segmen bilateral penting tersendiri bagi kunjungan mereka. Faktanya, Pertemuan Wuhan secara resmi diumumkan ke opini publik oleh EAM Sushma Swaraj dan FM Cina, Wang Yi pada interaksi mereka dengan media yang diikuti dengan interaksi bilateral di Beijing. Menteri Pertahanan, Nirmala Sitharaman juga melakukan sebuah pertemuan bilateral yang sangat penting dengan rekan menteri Cinanya yang menyebabkan mulusnya kerja sama pertahanan dan militer antara kedua negara. Kunjungan ke India oleh Menteri Keamanan Publik dan interaksi bersama Menteri Dalam Negeri, Rajnath Singh telah menghasilkan landasan baru bagi kerja sama antara India dan Tiongkok dalam penegakan hukum, penganggulangan terorisme dan berbagi inteligensi. Hal ini telah terbukti menjadi sangat penting di tahun-tahun yang akan datang. Pada bulan Desember 2018, Kementrian Luar Ngeri India dan Cina menggelar pertemuan pertama tentang mekanisme tingkat tinggi pada pertukaran orang ke orang yang telah diidentifikasikan sebagai hubungan yang lemak dalam hubungan bilateral kita. Pertukaran politik dan ekonomi juga harus didukung oleh arus yang lebih tinggi dari warga biasa antara kedua negara.

PM Narendra Modi dan Presiden Cina, Xi Jinping melakukan perjalanan di atas perahu di Danau Timur di Wuhan, Cina pada tanggal 28 April 2018

Kedua, pertukaran militer juga telah dilanjutkan dengan interaksi antara Komando Angkatan Darat Timur kita dengan Komando Teater Barat Cina. Dikarenakan orang-orang ini adalah komandan dan pasukan yang merupakan bagian penting dari perbatasan kita, penting bagi mereka untuk bertemu satu sama lain dan mencoba saling memahami berbagai upaya satu sama lain termasuk bagaimana mereka bereaksi terhadap situasi di lapangan. Apa yang bahkan lebih penting adalah dimulainya kerja sama angkatan laut sebagaimana terlihat baru-baru ini dengan kunjungan dari dua kapal perang Angkatan Laut India ke Qingdao pada bulan April ini untuk berpartisipasi dalam Tinjauan Armada Internasional Cina. Ketiga, defisit perdagangan India dengan Cina telah menyempit bahkan ketika perdagangan terus berekspansi. Bagaimanapun, masih banyak yang diperlukan khususnya dalam eskpor produk dan perangkat lunak India ke Cina. Jika kita mampu menjual barang-barang ke Cina, hanya dengan demikian akan ada sebuah perubahan dasar dalam gambar defisit ini. Untuk mengatasi ketidakseimbangan perdagangan ini, India harus fokus dalam mendatangkan turis Cina ke India serta memastikan bahwa investasi Cina yang kokoh dalam ladang hijau di negara kita. Keempat, berdasarkan arahan dari pertemuan tak resmi di Wuhan ini, penting melihat bahwa perbatasan India-Cina relatif sepi pada musim panas ini dikarenakan pengertian antara PM Modi dan Presiden Xi. Hal ini telah memungkinkan India untuk berfokus pada prioritas internalnya dalam pemilihan umum yang sedang berlangsung. Kelima, fakta bahwa India dan Cina telah bergandengan tangan dalam pelatihan diplomat Afghanistan dengan sebuah pandangan untuk berkontribusi ke kemajuan dan kemajuan negara Asia yang memang sangat signifikan. Terakhir, India telah menjadi anggota aktif dari SCO, yang berpartisipasi dalam seluruh kegiatannya, termasuk pelatihan militer gabungan. Kolaborasi seperti ini telah memberikan India mitra penting termasuk Wilayah Asia Tengah. Apakah pertemuan tak resmi kedua antara kedua pemimpin India dan Cina ini akan digelar tahun ini adalah hal yang harus diputuskan oleh kedua belah pihak. Namun, sebagian besar pengamat berpendapat bahwa opsi “Pertemuan Tak Resmi” pada pertemuan tingkat pemimpin harus tetap ada.

Gautam Bambawale

Gautam Bambawale adalah seorang diplomat India dan telah menjabat sebagai Duta Besar India untuk Bhutan, Pakistan dan Cina. Dia saat ini adalah profesor terkemuka di Symbiosis International University, Pune. Bambawale adalah seorang ahli subjek tentang kebijakan luar negeri India dalam hubungannya dengan Pakistan, Cina dan kawasan Indo-Pasifik.
error: Content is protected !!